CIRI-CIRI JEMAAH ISLAM YANG SEBENAR

MUQADDIMAH
Sabda Nabi SAW;
لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُونَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
Maksudnya;
“sentiasa ada satu golongan dari umatku yang berperang atas kebenaran dalam keadaan menzahirkannya hingga hari kiamat
[1]”
Jemaah Islam atau dipanggil juga sebagai gerakan Islam merupakan satu tuntutan yang lahirnya disebabkan kejatuhan khalifah Islam yang terakhir, iaitu di turki pada tahun 1924. Ekoran dari kejatuhan khalifah islam itu menyebabkan, dunia dan umat Islam di timpa dengan pelbagai kekusutan disamping diserang dengan pelbagai serangan yang datang dari musuh Islam, samada musuh Islam itu dari kalangan mereka yang non muslim, juga dari mereka yang beranggapan mereka beragama Islam.
1 comment:
SEJAUHMANA KEBENARAN DARIPADA DALIL AL-QURAN DAN AS-SUNNAH BAHAWA PAS ADALAH PARTI KHAWARIJ YANG BERWAJAH BARU
Kelompok yang pertama kali mengumandangkan takfir terhadap pelaku dosa besar adalah Khawarij.
Moyangnya sudah muncul sejak zaman Rasulullah r, iaitu Dzul-Khuwaisirah, yang mencela tindakan Nabi r saat membahagi harta rampasan perang.
Khawarij sebagai sebuah kelompok pertama kali muncul setelah terjadi peristiwa tahkim antara Muawiyah dan Ali bin Abi Thalib para perang Shiffin tahun 38 H.
Mereka menolak tahkim (ajakan berdamai), kerana menurut mereka Muawiyah adalah penzalim yang harus diperangi bukan diajak berdamai.
Ajakan berdamai menurut mereka adalah penggantian dari hukum Allah atas penzalim yang seharusnya diperangi.
Motto mereka pun adalah, “Tiada hukum kecuali hukum Allah.”
Hari ini, kelompok-kelompok yang menyuarakan takfir mempunyai kemiripan dengan Khawarij di beberapa sisi.
Mereka digelar “Khawarij gaya baru.”
Ketika Syeikh Ibnu Al-Utsaimin ditanya oleh seorang penuntut ilmu dari Aljazair tentang kelompok yang mengkafirkan penguasa tanpa petunjuk, maka beliau menjawab, “Mereka yang melakukan takfir adalah pewaris
Khawarij yang memberontak terhadap ‘Ali bin Abi Thalib.”
Penyambung Lidah Khawarij
Takfir yang dilaung-laungkan oleh sebahagian gerakan parti Islam hari ini tak begitu saja bermuara ke Khawarij.
Pewaris Khawarij hari ini tidak menyatakan terang-terangan setiap dosa besar menjadikan kafir pelakunya.
Hanya beberapa dosa besar yang mereka gembar-gemborkan sebagai penyebab kafir dan tidak menyinggung dosa besar lainnya. Tapi mereka sepakat tentang takfir penguasa yang tak menerapkan syariat Allah dan
bolehnya menentang serta memberontak penguasa yang zalim tersebut.
Khawarij moden meletakkan dasarnya pada takfir penguasa dan pada anggapan bahawa hari ini masyarakat telah jauh dari syariat Allah sehingga mereka pantas disebut sebagai masyarakat jahiliyah.
Pemikiran ini, jika dirunut, akan kembali kepada pemikiran Sayyid Quthb, seorang tokoh Ikhwanul Muslimin (IM) yang digantung pemerintah Mesir pada 1966.
Kesamaan prinsip Khawarij dan Sayyid Quthb ini dibenarkan sendiri oleh Ghannouchi, seorang tokoh IM, sebagaimana dikutip oleh Azzam Tamimi, tokoh IM di Eropah dalam tulisannya Democracy in Islamic Political
Thought,
“Quthb tampaknya telah mengambil keyakinan dari Al-Khawarij di mana seseorang tidak menjadi muslim kecuali dia tidak punya dosa sama sekali, dan (Quthb) menerapkannya sebagai pertanyaan terhadap peradaban,
iaitu seseorang tidak menjadi muslim kecuali dia benar-benar beradab secara sempurna, dan kerana itu semua muslim yang terbelakang adalah kafir.”
Dari Cap Jahiliyah
Pemikiran takfir sampai kepada tindakan anarki ala teroris benar-benar dinyatakan oleh Sayyid Quthb. Sayyid berkata, “Masyarakat (sekarang –red) yang mengaku sebagai masyarakat Islam adalah masuk dalam
kategori masyarakat jahiliyyah.
Masyarakat ini dianggap sebagai masyarakat jahiliyyah bukan kerana mereka masih berkeyakinan akan adanya keilahiyahan seseorang selain Allah dan juga bukan kerana mereka mengutamakan syiar-syiar peribadatan
kepada selain Allah. Masyarakat ini dikategorikan sebagai masyarakat jahiliyyah kerana di samping mereka beragama dengan beribadah kepada Allah saja dalam semua aturan hidupnya, dan walaupun mereka tidak
meyakini adanya keilahiyahan seorang pun selain Allah, tetapi mereka masih memberikan kekhususan yang sangat khusus dari sifat keilahiyahan kepada selain Allah, iaitu mereka masih beragama dengan berhukum
kepada selain hukum yang diturunkan oleh Allah…” (Ma’alim fith-Thariq, hal. 103)
Terhadap cap jahiliyah ini, Syeikh Shalih Al-Fauzan berkata, “Kata-kata jahiliyah secara umum telah hilang dengan diutusnya Rasul shallallahu’alahi wa sallam, maka tidak boleh menetapkannya secara mutlak
kepada masyarakat Islam secara umum. Ada pun menetapkan secara mutlak perkara-perkara jahiliyah kepada individu-individu atau firqah-firqah tertentu atau kelompok masyarakat tertentu, maka ini adalah hal
yang memungkinkan dan boleh. kerana Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah berkata kepada sebagian sahabatnya, ‘Sesungguhnya engkau adalah seorang yang punya sifat jahiliyah’(Riwayat Al-Bukhari). Dan
sabdanya, ‘Ada empat perkara jahiliyah pada umatku yang tidak akan ditinggalkan; membanggakan kebesaran leluhur, mencela keturunan, menisbatkan turunnya hujan kepada bintang-bintang dan meratapi
mayit.’(Riwayat Muslim dan Ahmad)”
Sampai ke Anarkisme
Perkataan ulama memang benar, dari takfir berlanjutlah ke terorisme.
Ini pula yang terjadi pada Sayyid Quthb. Dalam bukunya, Limaadzaa A’damuuniy (hal. 6),
Sayyid menyerukan pembunuhan terhadap tokoh masyarakat dan perusakan infrastruktur kota seperti di Kairo, misalnya dengan pengeboman.
Ia juga berkata bahawa mereka yang terpilih untuk melakukan aktivitas ini adalah mereka yang telah memahami akidah mereka.
Tentu, akidah versi Sayyid Quthb, yang berisi takfir, perselisihan dan kerusuhan public, panggilan untuk revolusi dan penentangan terhadap pemerintah, sebagaimana yang terdapat dalam buku-bukunya, seperti
Ma’alim fith-Thariq, Fi Zhilalil-Qur’an, Al-Adalaat Al-Ijtima’iyah.
Limaadzaa A’damuuniy merupakan buku terakhir yang Sayyid tulis. Buku ini menunjukkan bahawa ia belum bertobat dari manhaj destruktifnya sebagaimana yang ia sebarkan dalam buku-bukunya sebelumnya.
Pengakuan Pendukung
Terorisme hari ini diaku sebagai jihad oleh gerakan muslim menyimpang.
Jihad model baru ini berakar pada pandangan Sayyid Quthb sebagaimana pengakuan pendukungnya.
Ali Timimi, pendukung paham Quthb dari Inggris sebelum ia bertobat, berkata, “Saatnya adalah sekitar 1965, ide baru tentang Jihad ini, konsep Jihad ini, diperkenalkan kepada umat Islam. Ide Jihad ini dimulai
dengan asumsi bahawa seluruh dunia Islam sekarang ini merupakan masyarakat Jahiliyah dan setiap orang dalam masyarakat tersebut adalah kafir, baik penguasa maupun rakyatnya. Alasannya, syari’ah tidaklah lagi
berkuasa dan hukum-hukum sekuler mengatur manusia. Juga Anda temukan banyak kecurangan dan pengabaian terhadap Allah dan Rasul-Nya dalam masyarakat ini. kerana itu, setiap orang, apakah dia penguasa atau
rakyat, maka ia murtad. Demikian juga, seluruh aspek Islami yang Anda temukan di masyarakat ini, entah sekolah, halaqah penghafalan Qur’an di masjid, dan para ulama, mereka semua adalah simbol kemunafikan
yang digunakan untuk menipu muslim agar melanggengkan sistem Jahiliyah ini.”
Lanjutnya, “Mereka berkata, segala yang harus kita lakukan adalah mengumandangkan Jihad untuk mengenyahkan system ini, kerana kedamaian tidaklah membawa manfaat apa pun, kerana keadaan negara modern
kontemporer adalah persuasif dan mengendalikan segalanya. Jadi, ketika Anda mencoba mengubah hal-hal ini dengan nasehat, mereka akan mencegahnya, kerana itu, jalan satu-satunya adalah meluruskan dengan
kekuatan senjata.” (The Characteristics of Ahl us-Sunnah wal-Jama’ah)
Memberantas terorisme seharusnya tak hanya melarang buku-buku yang langsung mengusung pemikiran terorisme.
Memberantas terorisme seharusnya juga termasuk mewaspadai pemikiran takfir dan buku-buku yang memuat pemikiran itu, seperti buku-buku Sayyid Quthb yang telah diterjemahkan.
Patut disyukuri, buku-buku yang mengoreksi pemikiran Sayyid Quthb, seperti Adlwa’ Islamiyah ‘ala Aqidah Sayyid Quthb karya Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali, juga telah diterjemahkan. Semoga usaha ini dapat
memberantas ajaran terorisme yang merugikan umat Islam. (*)
“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu, dan jika tidak kamu kerjakan (bererti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya, Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.” (QS. Al Maidah:
67)
--------------------------
Tidak diragukan lagi bahawasanya golongan (hizb) apa saja yang tidak berdiri di atas tiga dasar ini (Al Qur’an, Sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan Manhaj Shalafus Shalih) maka akan berakibat
atau membawa kerugian pada akhirnya walaupun mereka itu (dalam dakwahnya) ikhlas.
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan selain jalannya orang-orang Mukmin, Kami palingkan dia kemana dia berpaling dan Kami masukkan dia ke dalam Jahanam.
Dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisa’ : 115)
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala ((“Dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin”)) dihubungkan dengan firman Allah ((“Dan barangsiapa menentang Rasul”)). Maka seandainya ayat ini berbunyi ((“Dan
barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, Kami palingkan dia kemana dia berpaling dan Kami masukkan dia ke dalam Jahanam. Dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali”)) yakni tanpa
firman Allah Subhanahu wa Ta'ala ((“Dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin”)) niscaya ayat ini menunjukkan kebenaran dakwah golongan-golongan dari kelompok-kelompok tadi baik yang di zaman
dahulu maupun yang sekarang ini, kerana mereka mengatakan kami di atas Kitab dan Sunnah. Mereka tidak mengembalikan permasalahan-permasalahan yang mereka perselisihkan kepada Kitab dan Sunnah, sebagaimana
firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
“ … kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul-Nya (As Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Yang demikian
itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa : 59)
Wajib bagi kita mengikuti Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan tidak menyelisihi (menentang) beliau, demikian pula wajib bagi kita untuk mengikuti jalannya kaum Mukminin dan tidak menyimpang darinya.
Dari sini kita menyatakan bahawa wajib atas tiap golongan/kelompok/jamaah Islamiyah untuk memperbaharui tolok ukur mereka yakni agar mereka bersandar kepada Al Qur’an dan Sunnah di atas pemahaman Salafus
Shalih.
Dan sangat kita sayangkan PAS tidak berdiri di atas dasar yang ketiga, demikian pula Ikhwanul Muslimin dan hizb-hizb Islamiyah lainnya.
“Dan bahawa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan jangan kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), kerana jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al
An’am : 153)
Ayat yang mulia ini jelas Qath’iyyatul Ad Dalalah (pasti penunjukkan) sebagaimana disukai dan biasa diucapkan oleh pemimpin-pemimpin PAS dalam dakwahnya, tulisan-tulisan dan khutbah-khutbahnya.
Dalil yang Qath’iyyatul Ad Dalalah (pasti penunjukkan), kerana ayat ini menyatakan : “Sesungguhnya jalan yang bisa menuju pada Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah satu, dan jalan-jalan yang lain adalah
jalan-jalan yang menjauhkan kaum Muslimin dari jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Dan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam juga menambahkan keterangan dan penjelasan terhadap ayat ini sebagaimana keberadaan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam itu sendiri (menjelaskan dan
menerangkan Al Qur’an, pent.). Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan dalam Al Qur’anul Karim kepada Nabi-Nya Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :
“Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (QS. An Nahl : 44)
Sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam adalah penjelas yang sempurna terhadap Al Qur’an, sedangkan Al Qur’an adalah asal peraturan/undang-undang dalam Islam.
Untuk memperjelas suatu permasalahan pada kita agar lebih mudah untuk difahami.
Oleh sebab itu sudah menjadi kesepakatan di kalangan kaum Muslimin, yang pasti bahawa tidak mungkin bisa memahami Al Qur’an kecuali dengan penjelasan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan ini adalah
perkara yang telah disepakati.
Akan tetapi sesuatu yang diperselisihkan kaum Muslimin sehingga menimbulkan berbagai pengaruh setelahnya iaitu bahawa semua firqah sesat dahulu tidak mahu memperhatikan dasar yang ketiga ini iaitu mengikuti
Salafus Shalih, maka mereka menyelisihi ayat yang sering disebutkan berulang-ulang :
“ … dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang Mukmin.” (QS. An Nisa : 115)
Mereka menyelisihi jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala, kerana jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah satu iaitu sebagaimana yang disebut dalam ayat terdahulu :
“Dan bahawa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan jangan kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), kerana jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al
An’am : 153)
Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam membuat satu garis untuk kami, sebuah garis lurus dengan tangan beliau di tanah, kemudian beliau menggaris disekitar garis lurus itu garis-garis
pendek. Lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mengisyaratkan (menunjuk) pada garis yang lurus dan beliau membaca ayat (yang artinya : “Dan bahawa (yang Kami perintah) ini adalah jalan-Ku yang lurus,
maka ikutilah dia, dan jangan kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), kerana jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya”.
Bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam sambil menunjuk jarinya pada garis lurus, “ini adalah jalan Allah”, kemudian menunjuk pada garis-garis yang pendek di sekitarnya (kanan-kirinya) dan
bersabda, “ini adalah jalan-jalan dan pada setiap pangkal jalan itu ada syaithan yang menyeru manusia padanya.”
Hadits ini ditafsirkan dengan hadits lain yang telah diriwayatkan oleh Ahlus Sunan seperti Abu Dawud, Tirmidzi, dan selain dari keduanya dari Imam-Imam Ahlul Hadits dengan jalan yang banyak dari kalangan
para shahabat seperti Abu Hurairah, Muawiyah, Anas bin Malik, dan yang selainnya dengan sanad yang jayyid. Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, dan Nashrani telah terpecah menjadi 72 golongan, dan sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya ada di neraka kecuali satu. Maka mereka (para
shahabat) bertanya : “Siapa dia ya Rasulullah?” Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : “Dia adalah apa yang aku dan shahabatku berada di atasnya.”
Hadits ini menjelaskan kepada kita jalannya kaum Mukminin yang disebut dalam ayat tadi.
Siapakah orang-orang Mukmin yang disebutkan dalam ayat itu?
Meraka itulah yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam pada hadits Al Firaq, ketika beliau ditanya tentang Firqatun Najiah (golongan yang selamat), manhaj, sifat, dan titik tolaknya.
Maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab, “apa yang aku dan para shahabatku berada di atasnya.” Maka jawaban ini wajib diperhatikan, kerana merupakan jawaban dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
Wa Sallam.
Jika bukan wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta'ala maka itu adalah tafsir dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam terhadap jalannya orang-orang Mukmin yang terdapat pada firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
“Dan barangsiapa yang menentang Rasulullah sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin.”
Pada ayat ini Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan tentang Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan jalannya orang-orang Mukmin.
Sementara itu (dalam hadits, pent.) Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menyebutkan tanda Firqatun Najiah yang tidak termasuk 72 golongan yang binasa.
Sesungguhnya Firqatun Najiah adalah golongan yang berdiri di atas apa yang ada pada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan para shahabat. Maka pada hadits ini kita akan dapati apa yang kita dapati pula
dalam ayat.
Sebagaimana ayat tidak membatasi penyebutan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam saja, demikian pula hadits tidak membatasi penyebutan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam saja.
Di samping itu ayat juga menyebutkan jalannya orang-orang Mukmin demikian pula dalam hadits terdapat penyebutan “shahabat Nabi” maka bertemulah hadits dengan Al Qur’an.
Oleh sebab itu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Aku tinggalkan bagi kalian dua perkara, yang kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh dengan keduanya, yakni Kitabullah dan Sunnahku dan tidaklah terpisah keduanya (Al Qur’an dan As Sunnah) sampai
keduanya datang kepadaku di Haudl.” (Diriwayatkan oleh Malik dalam Muwatha’-nya, Al Hakim dalam Mustadrak-nya dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ hadits nomor 2937)
Banyak golongan-golongan terdahulu maupun sekarang yang tidak berdiri di atas dasar yang ketiga ini sebagaimana yang disebutkan di dalam Al Qur’an dan Hadits.
Pada hadits di atas disebutkan tanda golongan yang selamat yaitu yang berada di atas apa yang ada pada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan para shahabatnya.
Semakna dengan hadits ini adalah hadits Irbadl ibn Sariyyah radhiallahu 'anhu yang termasuk salah satu shahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dari kalangan Ahlus Shufah, yakni mereka dari kalangan
fuqara’ yang tetap berada di Masjid dan menghadiri halaqah-halaqah (majelis taklim) Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam secara langsung dan bersih. Berkata Irbadl ibn Sariyyah radhiallahu 'anhu :
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam memberi nasehat kepada kami yang membuat hati kami bergetar dan air mata kami berlinang (kerana terharu). Kami berkata : “Ya Rasulullah seakan-akan ini adalah nasehat
perpisahan maka berilah kami wasiat.” Maka beliau bersabda : “Aku wasiatkan kepada kamu sekalian untuk tetap bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan senantiasa mendengar dan taat walaupun yang memimpin
kalian adalah seorang budak. Barangsiapa hidup (berumur panjang) di antara kalian niscaya dia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh kerana itu wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan
sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk (yang datang) sesudahku, gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian, dan jauhilah perkara-perkara baru yang diada-adakan (dalam urusan agama, pent.).
kerana sesungguhnya setiap perkara yang baru itu bid’ah. Dan setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu di neraka.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi. Berkata Tirmidzi, hadits ini hasan)
Hadits ini merupakan (penguat) bahawasanya Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam tidak membatasi perintahnya kepada umatnya untuk berpegang teguh dengan sunnahnya saja ketika mereka berselisih akan tetapi
beliau menjawab dengan uslub/cara bijaksana, dan siapa yang lebih bijaksana dari beliau setelah Allah? Oleh sebab itu tatkala Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Barangsiapa di antara kalian yang hidup (berumur panjang) setelahku maka dia akan melihat perselisihan yang banyak.”
Beliau juga memberikan jawaban dari soal yang mungkin akan muncul (dipertanyakan) : “Apa yang kita lakukan ketika itu wahai Rasulullah?” Maka Rasulullah menjawab : “Wajib atas kalian mengikuti sunnahku.”
MENGAPA PENYOKONG PAS TIDAK TAAT PERINTAH RASULULLAH SUPAYA TAAT KEPADA PEMIMPIN
SANGGUP DIGELAR KHAWARIJ GAYA BARU
Hukum Memberontak Kepada Penguasa Muslim
Menurut Akidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah
Dan dari Al Auza’i dari Hasan bin Athiyah dia berkata: “Tidaklah suatu kaum itu berbuat bid’ah kecuali akan Allah angkat satu sunnah yang serupa kemudian tidak akan dikembalikan-Nya sampai hari kiamat.”
Dari Ayub As Sikhtiyani dia berkata: “Tidaklah bertambahnya semangatnya ahli bid’ah itu kecuali akan semakin menjauhkan dia dari Allah dan ahli bid’ah ini dinamakan Khawarij.” Dan dia berkata: “Sesungguhnya
Khawarij itu model-bentuknya berbeda-beda akan tetapi mereka sama-sama dalam mengangkat senjata (terhadap penguasa Muslim, red.).” (Al I’tisham karya As Syathibi 1-83)
Kewajiban Menjaga Perpaduan
dan Larangan Perpecahan
Firman Allah Ta’ala:
“Dan janganlah kalian saling berselisih yang akan menyebabkan kalian bercerai-berai dan hilang kekuatan kalian.” (QS. Al Anfal: 46)
“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah-belah dalam agama mereka dan berselisih setelah datang penjelasan kepada mereka. Dan bagi mereka adzab yang pedih.” (QS. Ali Imran: 105)
Dari Usamah bin Syuraik radliyallahu 'anhu berkata, bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam:
“Tangan Allah di atas jamaah.”
(HR. Ahmad, Ibnu Abi Ashim, Tabrani dan Hakim)
Dari Ka’ab bin Ashim radliyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam berkata:
“Sesungguhnya Allah Ta’ala telah melindungi umatku dari bersatu di atas kesesatan.”
(HR. Ibnu Abi Ashim dan At Tirmizi dan lainnya)
Dari Umar bin Al Khaththab radliyallahu 'anhu berkata, berkata Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam:
“Barangsiapa yang menginginkan sungai-sungai Surga maka hendaklah ia berpegang teguh dengan Al Jama’ah kerana sesungguhnya syaithan itu bersama dengan orang yang sendirian dan ia dengan orang yang berduaan
itu lebih jauh.”(HR. Ibnu Abi Ashim, Ahmad, At Tirmizi, Al Hakim dan Ibnu Hibban)
Dari Fudhalah bin Ubaid berkata, berkata Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam:
“Tiga golongan yang tidak akan ditanya keadaan mereka (pada hari kiamat): Seorang laki-laki yang menyempal dari Al Jamaah dan bermaksiat kepada imamnya kemudian mati dalam keadaan bermaksiat. Seorang budak
yang melarikan diri dari tuannya dan kemudian mati. Seorang wanita yang ditinggal suaminya dalam keadaan cukup nafkahnya kemudian dia berdandan sesudahnya.”
(HR. Ibnu Abi Ashim, Ibnu Hibban dan Hakim)
Dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu berkata, berkata Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam:
“Barangsiapa yang menyempal dari Al Jamaah maka jika ia mati, matinya mati jahiliyah.”
(HR. Muslim)
Dari An Nu’man bin Basyir radliyallahu 'anhu berkata, berkata Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam:
“Al Jamaah itu adalah rahmat dan perpecahan itu adalah azab.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Abi Ashim)
Dari Al Harits bin Basyir radliyallahu 'anhu berkata, berkata Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam:
“Aku perintahkan dengan lima perkara: Mendengar, taat, berpegang teguh dengan Al Jamaah, berhijrah, dan berjihad.”
(HR. Ahmad, Ibnu Abi Ashim dan At Tirmizi)
Dari Abdullah bin Amr radliyallahu 'anhu berkata, berkata Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam:
“Barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku maka ia bukan golonganku.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Ibnu Umar radliyallahu 'anhu berkata, berkata Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam:
“Barangsiapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan maka dia tidak akan memiliki hujjah di hari kiamat nanti.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Abi Ashim)
Dari Urfajah Al Asyja’i radliyallahu 'anhu berkata, berkata Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam:
“Barangsiapa yang mendatangi kalian dan memerintahkan kalian berkumpul (untuk mengangkat amir) kepada seseorang dan menginginkan memecah-belah barisan kalian maka bunuhlah!”
(HR. Muslim)
Kewajiban Mentaati Penguasa Muslim
Walaupun Tidak Berhukum dengan Hukum Allah
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam memerintahkan kita untuk mentaati pemimpin
Dari Anas radliyallahu 'anhu berkata, berkata Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam:
“Mendengar dan taatlah kalian walaupun yang memimpin kalian adalah bekas budak dari Habasyah yang kepalanya seperti kismis, selama dia menegakkan Kitabullah di antara kalian.”
(HR. Bukhari)
Dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu berkata, berkata Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam:
“Barangsiapa yang mentaati aku maka dia telah mentaati Allah, barangsiapa yang bermaksiat kepadaku maka ia telah bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa yang mentaati amir/pemimpin maka ia telah mentaatiku,
barangsiapa yang bermaksiat kepada amir/pemimpin maka ia telah bermaksiat kepadaku.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Ibnu Umar radliyallahu 'anhu berkata, berkata Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam:
“Wajib bagi seorang Muslim untuk taat dalam hal-hal yang dia sukai ataupun yang ia benci kecuali kalau diperintah untuk berbuat maksiat maka tidak boleh mendengar dan taat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Auf bin Malik radliyallahu 'anhu berkata, berkata Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam:
“Ketahuilah, barangsiapa yang di bawah seorang wali/pemimpin dan ia melihat padanya ada kemaksiatan kepada Allah maka hendaklah ia membenci kemaksiatannya. Akan tetapi janganlah (hal ini menyebabkan)
melepaskan ketaatan kepadanya.”
(HR. Muslim)
Dari Hudzaifah Ibnul Yaman radliyallahu 'anhu berkata, bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam:
“Akan datang sesudahku para pemimpin, mereka tidak mengambil petunjukku dan juga tidak melaksanakan sunnahku. Dan kelak akan ada para pemimpin yang hatinya seperti hati syaithan dalam jasad manusia.” Maka
aku berkata: “Ya Rasulullah, apa yang aku perbuat jika aku mendapati hal ini?” Berkata beliau: “Hendaklah engkau mendengar dan taat pada amirmu walaupun dia memukul punggungmu dan merampas hartamu.”
(HR. Muslim)
Dari Ibnu Umar radliyallahu 'anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam:
“Barangsiapa yang mengacungkan senjata kepada kami maka dia bukan golongan kami.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Irbadh bin Sariyah radliyallahu 'anhu berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam pernah berkhutbah kepada kami, beliau berkata:
“Bertakwalah kalian kepada Allah, wajib bagi kalian untuk mendengar dan taat walaupun pemimpin kalian adalah budak dari Habasyah. Dan sesungguhnya barangsiapa yang hidup panjang di antara kalian akan melihat
perselisihan yang sangat banyak maka wajib bagi kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khalifah yang lurus dan terbimbing sesudahku.”
(HR. Abu Dawud, At Tirmidzi, dan Ad Darimi)
Dari Ubadah bin Shamit radliyallahu 'anhu berkata, bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam:
“Barangsiapa yang beribadah kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, menegakkan shalat, menunaikan zakat, mendengar dan taat (kepada amirnya, pent.) maka akan masuk Surga dari pintu mana saja
yang ia inginkan dari delapan pintu Syurga.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Abi Ashim dan At Tabrani)
Dari Adi bin Hatim radliyallahu 'anhu berkata, kami berkata:
“Ya Rasulullah, kami tidak bertanya padamu tentang sikap terhadap penguasa-penguasa yang bertakwa/baik. Akan tetapi penguasa yang melakukan ini dan itu (disebutkan kejelekankejelekan).” Maka Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda: “Bertakwalah kalian kepada Allah, mendengar dan taatlah kalian.”
(HR. Ibnu Abi Ashim, disahihkan Al Albani dalam Az Zilal)
Dari Ibnu Umar radliyallahu 'anhu berkata, datang seorang laki-laki kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan berkata:
“Berilah aku nasihat!” Maka beliau bersabda: “Mendengar dan taatlah kalian. Hendaklah kalian terang-terangan dan jauhilah oleh kalian mengatur urusan umat secara sirr (kerana ini adalah tugas penguasa,
pent.).”
(HR. Ibnu Abi Ashim, disahihkan Al Albani dalam Az Zilal)
Dari Ubadah bin Shamit radliyallahu 'anhu berkata:
“Kami membaiat Rasul untuk mendengar dan taat dalam sirr maupun terang-terangan, untuk menunaikan hak penguasa, baik dalam keadaan sulit maupun lapang serta ketika mereka mementingkan pribadi mereka. Dan
tidak memberontak kepada penguasa. Kecuali ketika kita melihat kekufuran yang nyata dan ada bukti di sisi Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Ubadah bin Shamit radliyallahu 'anhu berkata:
“Kami membaiat Rasul untuk mendengar dan taat dalam sirr maupun terang-terangan, untuk menunaikan hak penguasa, baik dalam keadaan sulit maupun lapang serta ketika mereka mementingkan pribadi mereka. Dan
tidak memberontak kepada penguasa. Kecuali ketika kita melihat kekufuran yang nyata dan ada bukti di sisi Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Ubadah bin Shamit radliyallahu 'anhu berkata:
“Kami membaiat Rasul untuk mendengar dan taat dalam sirr maupun terang-terangan, untuk menunaikan hak penguasa, baik dalam keadaan sulit maupun lapang serta ketika mereka mementingkan pribadi mereka. Dan
tidak memberontak kepada penguasa. Kecuali ketika kita melihat kekufuran yang nyata dan ada bukti di sisi Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Ummu Salamah radliyallahu 'anha berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam:
“Akan terjadi sesudahku para penguasa yang kalian mengenalinya dan kalian mengingkarinya. Barangsiapa yang mengingkarinya maka sungguh ia telah berlepas diri. Akan tetapi siapa saja yang ridha dan terus
mengikutinya (dialah yang berdosa, pent.).” Maka para shahabat berkata: “Apakah tidak kita perangi saja mereka dengan pedang?” Beliau menjawab: “Jangan, selama mereka menegakkan shalat bersama kalian.”
(HR. Muslim)
Perintah Untuk Menasihati Penguasa Mendoakan Mereka,
dan Larangan Mengaibkan Penguasa di Khalayak Umum
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam memerintahkan untuk menasihati penguasa apabila mereka melakukan kemaksiatan dan berlepas diri dari kemaksiatanya. Itu yang diperintahkan.
Dari Tamim Ad Dari radliyallahu 'anhu berkata, bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam:
“Agama itu nasihat.” Maka kami bertanya: “Untuk siapa, ya Rasulullah?” Maka Beliau menjawab: “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, dan untuk penguasa Muslimin dan umat mereka.”
(HR. Muslim)
Dari Zaid bin Tsabit radliyallahu 'anhu berkata, bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam:
“Tiga golongan yang dengannya hati seorang Muslim tidak akan mendendam: Ikhlas dalam beramal untuk Allah, menasihati penguasa, dan menetapi persatuan umat. Maka sesungguhnya doa-doa mereka meliputi dari
belakang mereka.”
(HR. Ashaabus Sunan)
Dan Nabi melarang mencela, mencaci para penguasa, dan menyebarkan aib-aib mereka. Beliau memerintahkan untuk menasihati mereka dan mendoakan kebaikannya.
Berkata Imam At Thahawi dalam aqidahnya yang banyak diterima oleh ummat ini:
“Kami tidak berpendapat bolehnya memberontak kepada penguasa dan pemimpin kita walaupun ia seorang pemimpin yang jahat. Dan tidak mendoakan kejelekan untuk mereka. Tidak melepaskan tangan dari ketaatan
kepada mereka. Kerana ketaatan pada mereka termasuk ketaatan kepada Allah dan merupakan kewajiban. Selama tidak diperintahkan kepada yang maksiat. Kita mendoakan untuk mereka kebaikan dan ampunan.”
Dari Anas radliyallahu 'anhu berkata, telah melarang kami para pembesar kami dari shahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, mereka berkata:
Bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam: “Janganlah kalian mencela pemimpin kalian dan janganlah kalian mendengki mereka, janganlah kalian membenci mereka, bertakwalah kepada Allah, bersabarlah
kerana urusan ini sudah dekat.”
(HR. Ibnu Abi Ashim, disahihkan Al Albani)
Dari Abi Bakrah radliyallahu 'anhu berkata, bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam:
“Penguasa adalah naungan Allah di muka bumi maka barangsiapa yang menghinakan penguasa maka Allah akan menghinakannya, barangsiapa yang memuliakan penguasa maka Allah akan memuliakannya.”
(HR. Ibnu Abi Ashim, Ahmad, At Thayalisi, At Tirmidzi, dan Ibnu Hibban. Disahihkan Al Albani dalam Adz Dzilal)
Dari Muaz bin Jabal radliyallahu 'anhu berkata, bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam:
“Lima hal yang barangsiapa yang melakukan salah satunya maka dia akan mendapat jaminan dari Allah: Siapa yang menjenguk orang sakit, yang mengantar jenazah, yang keluar untuk berperang, atau masuk pada
penguasanya ingin menasihatinya dan memuliakannya atau orang yang diam di rumahnya sehingga dengannya selamatlah manusia.”
(HR. Ahmad, Ibnu Abi Ashim, Al Bazar, Al Hakim, dan At Tabrani)
Rasul menerangkan kepada kita bagaimana tatacara menasihati penguasa. Hendaklah tidak dilakukan di atas mimbar, di hadapan orang banyak.
Dari Iyadh bin Ghunaim radliyallahu 'anhu berkata, bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam:
“Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa maka janganlah melakukannya dengan terang-terangan di hadapan umum. Akan tetapi dengan cara mengambil tangan penguasa tersebut dan menyendiri. Jika ia menerimanya
maka inilah yang diharapkan, jika tidak menerimanya maka ia telah melakukan kewajibannya.”
(HR. Ahmad, Ibnu Abi Ashim, Hakim, dan Baihaqi. Disahihkan Al Albani dalam Adz Dzilal)
Dari Ubaidillah bin Khiyar berkata:
“Aku mendatangi Usamah bin Zaid radliyallahu 'anhu dan aku katakan: “Kenapa engkau tidak menasihati Utsman bin Affan untuk menegakkan hukum had atas Al Walid?” Maka Usamah berkata: “Apakah kamu mengira aku
tidak menasihatinya kecuali harus dihadapanmu? Demi Allah sungguh aku telah menasihatinya secara sembunyi-sembunyi antara aku dan ia saja. Dan aku tidak ingin membuka pintu kejelekan dan aku bukanlah orang
yang pertama kali membukanya.”
(Atsar diriwayatkan Bukhari dan Muslim)
Tidak ada sedikit ruangpun dalam syariat yang membolehkan kita memberontak kepada penguasa sekiranya mereka tidak mahu mendengar nasihat.
Bahkan yang ada adalah perintah untuk bersabar, sesungguhnya dosanya akan ditanggung mereka. Barangsiapa yang telah menasihati mereka dan mengingkari kemungkarannya dengan cara yang benar maka ia telah
terlepas dari dosa.
Dari Wail bin Hujr radliyallahu 'anhu berkata:
Kami bertanya: “Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika penguasa kami merampas hak-hak kami dan meminta hak-hak mereka?” Bersabda beliau: “Mendengar dan taatlah kalian pada mereka maka sesungguhnya bagi
merekalah balasan amalan mereka dan bagi kalianlah pahala atas kesabaran kalian.”
(HR. Muslim)
Dari Anas radliyallahu 'anhu berkata: “Bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam:
“Kalian akan menjumpai sesudahku atsarah (pemerintah yang tidak menunaikan hak-hak rakyatnya tapi selalu meminta hak-haknya, pent.) maka bersabarlah sampai kalian berjumpa denganku.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Abi Hurairah radliyallahu 'anhu berkata, bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam:
“Kelak akan terjadi para penguasa dan mereka mengumpul-ngumpulkan harta (korupsi, pent.).” Maka kami bertanya: “Maka apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Beliau menjawab: “Tunaikanlah baiat yang
pertama, tunaikanlah hak-hak penguasa, sesungguhnya Allah akan bertanya pada mereka atas apa-apa yang mereka lakukan terhadap kalian.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Mu’awiyah radliyallahu 'anhu berkata, ketika Abu Dzar radliyallahu 'anhu keluar ke Ar Rubdzah beberapa orang Iraq menemuinya dan berkata:
“Wahai Abu Dzar, angkatlah bendera bersama kami maka orangorang akan mendatangi kamu dan tunduk kepadamu.” Maka Abu Dzar berkata: “Tenang-tenang wahai Ahlul Islam, sesungguhnya aku mendengar Rasul
bersabda:
‘Kelak akan ada sesudahku penguasa maka muliakanlah ia, barangsiapa yang menghinakannya maka ia telah membuat kehancuran dalam Islam dan tidak akan diterima taubatnya sampai ia mengembalikan kehancuran umat
ini menjadi seperti semula.’”
(HR. Ahmad dan Ibnu Abi Ashim. Disahihkan Al Albani dalam Adz Dzilal)
Dari Abu Dzar radliyallahu 'anhu berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mendatangiku dan aku dalam keadaan tertidur dalam masjid kemudian beliau berkata:
“Apa yang kamu lakukan jika kamu diusir dari negerimu?” Aku menjawab: “Aku akan pergi ke Syam!” Beliau bertanya lagi: “Apa yang kamu lakukan jika kamu diusir dari Syam?” Aku menjawab: “Aku akan lawan dengan
pedangku ya Rasulallah!” Maka beliau bersabda: “Maukah aku tunjukan dengan yang lebih baik dari itu semua dan lebih mencocoki petunjuk? Mendengar dan taatlah dan turutilah kemana pun mereka menggiringmu.”
(HR. Ahmad, Ibnu Abi Ashim, Ad Darimi, dan Ibnu Hibban. Disahihkan Al Albani dalam Adz Dzilal)
Demikian juga Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah memperingatkan dari menyebarkan aib penguasa dan kesalahannya di atas mimbar-mimbar dan majlis-majlis kerana hal ini akan menyebabkan tersebarnya
kejelekan yang dilarang oleh Allah Ta’ala dalam Kitab-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang yang menginginkan tersebarnya kejelekan di antara orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mengetahui sedangkan kalian tidak
mengetahui.”
(QS. An Nur: 19)
Dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda:
“Jika berkata seorang laki-laki: ‘Manusia telah binasa.’ Maka ia orang yang paling binasa di antara mereka.”
(HR. Muslim)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah melarang menyebarkan fitnah dan melarang perbuatan yang menyebabkan tersebarnya fitnah sekalipun fitnah tersebut telah tersebar luas. Dan beliau Shallallahu
'Alaihi Wa Sallam mengabarkan bahawa fitnah itu tidak akan membawa kebaikan pada umat. Bahkan beliau juga melarang untuk angkat senjata (melawan penguasa) dan melarang bergabung dengan pemberontak
lebih-lebih jika fitnahnya disebabkan masalah dunia.
Dari Miqdad bin Aswad radliyallahu 'anhu berkata, bersabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam:
“Sesungguhnya orang yang bahagia itu adalah yang telah menjauhi fitnah dan ketika ditimpa musibah maka ia bersabar, alangkah bahagianya ia.”
(HR. Abu Dawud. Menurut Al Albani: “Sahih atas syarat Muslim.”)
Imam As Syaukani dalam Sailul Jarar dalam judul Kitabul Baghyi, beliau berkata:
“Pemberontak adalah siapa saja yang keluar dari ketaatan kepada pemimpin. Pelakunya tercela walaupun bertujuan untuk kemaslahatan Muslimin tanpa dalil dan tanpa menasihatinya terlebih dahulu.”
“Dan tidak boleh memberontak kepada penguasa walaupun mereka pada puncak kezaliman selama tidak nampak pada mereka kekufuran yang nyata. Hadis-hadis yang menerangkan hal ini mutawatir.”
SIFAT DAN KARAKTER KHAWARIJ
Ketika Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam membahagi-bahagikan harta rampasan perang di desa Ju’ronah -pasca perang Hunain- beliau memberikan seratus ekor unta kepada Aqra’ bin Habis dan Uyainah bin Harits. Beliau juga memberikan kepada beberapa orang dari tokoh quraisy dan pemuka-pemuka arab lebih banyak dari yang diberikan kepada yang lainnya. Melihat hal ini, seseorang (yang disebut Dzul Khuwaisirah) dengan mata melotot dan urat lehernya menggelembung berkata: “Demi Allah ini adalah pembagian yang tidak adil dan tidak mengharapkan wajah Allah”. Atau dalam riwayat lain dia mengatakan kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam: “Berbuat adillah, kerana sesungguhnya engkau belum berbuat adil!”.
Sungguh, kalimat tersebut bagaikan petir di siang bolong. Pada masa generasi terbaik dan di hadapan manusia terbaik pula, ada seorang yang berani berbuat lancang dan menuduh bahawa Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam tidak berbuat adil. Mendengar ucapan ini Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam dengan wajah yang memerah bersabda:
Siapakah yang akan berbuat adil jika Allah dan rasul-Nya tidak berbuat adil? Semoga Allah merahmati Musa. Dia disakiti lebih dari pada ini, namun dia bersabar. (HR. Bukhari Muslim)
Saat itu Umar bin Khathab radhiallahu 'anhu meminta izin untuk membunuhnya, namun Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam melarangnya. Beliau menghabarkan akan munculnya dari turunan orang ini kaum reaksioner (khawarij) sebagaimana disebutkan dalam riwayat berikutnya:
Sesungguhnya orang ini dan para pengikutnya, salah seorang di antara kalian akan merasa kalah shalatnya dibandingkan dengan shalat mereka; puasanya dengan puasa mereka; mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari buruannya. (HR. al-Ajurri, Lihat asy-Syari’ah, hal. 33)
Demikianlah Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam mensinyalir akan munculnya generasi semisal Dzul Khuwaisirah -sang munafiq-. Yaitu suatu kaum yang tidak pernah puas dengan penguasa manapun, menentang penguasanya walaupun sebaik Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.
Dikatakan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bahawa mereka akan keluar dari agama ini seperti keluarnya anak panah dari buruannya. Yaitu masuk dari satu sisi dan keluar dari sisi yang lain dengan tidak terlihat bekas-bekas darah maupun kotorannya, padahal ia telah melewati darah dan kotoran hewan buruan tersebut.
Dalam riwayat lain disebutkan bahawa mereka adalah orang-orang yang bagus bacaan al-Qur’annya, namun ia tidak mengambil faedah dari apa yang mereka baca.
Sesungguhnya sepeninggalku akan ada dari kaumku, orang yang membaca al-Qur’an tapi tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka akan keluar dari Islam ini sebagaimana keluarnya anak panah dari buruannya. Kemudian mereka tidak akan kembali padanya. Mereka adalah sejelek-jelek makhluk. (HR. Muslim)
Dari riwayat ini, kita mendapatkan ciri-ciri dari kaum khawarij, yakni mereka dapat membaca al-Qur’an dengan baik dan indah; tapi tidak memahaminya dengan benar. Atau dapat memahaminya tapi tidak sampai ke dalam hatinya. Mereka berjalan hanya dengan hawa nafsu dan emosinya.
Ciri khas mereka lainnya adalah: “Mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan orang-orang kafir” sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:
Sesungguhnya akan keluar dari keturunan orang ini satu kaum; yang membaca al-Qur’an, namun tidak melewati kerongkongannya. Mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan para penyembah berhala. Mereka akan keluar dari Islam ini sebagaimana keluarnya anak panah dari buruannya. Jika sekiranya aku menemui mereka, pasti aku bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum ‘Aad. (HR. Bukhari Muslim)
Sebagaimana yang telah mereka lakukan terhadap seorang yang shalih dan keluarganya yaitu Abdullah –anak dari shahabat Khabbab bin Art radhiallahu 'anhu. Mereka membantainya, merobek perut istrinya dan mengeluarkan janinnya. Setelah itu dalam keadaan pedang masih berlumuran darah, mereka mendatangi kebun kurma milik seorang Yahudi. Pemilik kebun ketakutan seraya berkata: “Ambillah seluruhnya apa yang kalian mau!” Pimpinan khawarij itu menjawab dengan arif: “Kami tidak akan mengambilnya kecuali dengan membayar harganya”. (Lihat al-Milal wan Nihal)
Maka kelompok ini sungguh sangat membahayakan kaum muslimin, terlepas dari niat mereka dan kesungguhan mereka dalam beribadah. Mereka menghalalkan darah kaum muslimin dengan kebodohan. Untuk itu mereka tidak segan-segan melakukan teror, pembunuhan, pembantaian dan sejenisnya terhadap kaum muslimin sendiri.
Ciri berikutnya adalah: kebanyakan di antara mereka berusia muda, dan bodoh pemikirannya kerana kurangnya kedewasaan mereka. Mereka hanya mengandalkan semangat dan emosinya, tanpa dilandasi oleh ilmu dan pertimbangan yang matang. Sebagaimana yang terdapat dalam riwayat lainnya, ketika Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:
Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang masih muda umurnya, bodoh pemikirannya. Mereka berbicara seperti perkataan manusia yang paling baik. Keimanan mereka tidak melewati kerongkongannya, mereka keluar dari agama ini seperti keluarnya anak panah dari buruannya. Di mana saja kalian temui mereka, bunuhlah mereka. Sesungguhnya membunuh mereka akan mendapatkan pahala pada hari kiamat. (HR. Muslim)
Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam menjuluki mereka dengan gelaran yang sangat jelek yaitu “anjing-anjing neraka” sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abi Aufa bahawa dia mendengar Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:
Khawarij adalah anjing-anjing neraka. (HR. Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Dlilalul Jannah)
Diriwayatkan pula dari Sa’id bin Jamhan, beliau berkata: “Saya masuk menemui Ibnu Abi Aufa dalam keadaan beliau telah buta, aku berikan salam kepadanya. Ia pun menjawab salamku, kemudian bertanya: “Siapakah engkau ini?”. Aku menjawab: “Saya Sa’id bin Jamhan”. Dia bertanya lagi: “apa yang terjadi pada ayahmu?” Aku menjawab: “Dia dibunuh oleh sekte Azariqah”. Maka Ibnu Abi Aufa mengatakan tentang azariqah: “Semoga Allah memerangi Azariqah, sungguh Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam telah menyampaikan kepada kami:
Ketahuilah bahawa mereka adalah anjing-anjing penduduk neraka”.
Aku bertanya: “Apakah sekte azariqah saja atau seluruh khawarij?” Beliau menjawab: “Seluruh khawarij”. (As-Sunnah Ibnu Abi Ashim hal. 428 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Dhilalul Jannah).
Beliau shalallahu 'alaihi wasallam juga memuji orang-orang yang membunuh mereka. Sebaliknya beliau shalallahu 'alaihi wasallam mencerca mayat-mayat mereka dengan kalimat “sejelek-jelek bangkai di bawah naungan langit”.
Diriwayatkan dari Abu Ghalib bahawa ia berkata: ”Pada saat aku berada di Damaskus. Tiba-tiba didatangkanlah tujuh puluh kepala dari tokoh-tokoh Haruriyyah (khawarij) dan dipasang di tangga-tangga masjid. Pada saat itu datanglah Abu Umamah radhiallahu 'anhu--sahabat Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam-- dan masuk ke masjid. Beliau shalat dua rakaat, dan keluar dan menghadap kepala-kepala tadi dengan meneteskan air mata. Beliau memandangnya beberapa saat seraya berkata: ”Apa yang dilakukan oleh iblis-iblis ini terhadap ahlul Islam?” (tiga kali diucapkan). Dan beliau berkata lagi: ”Anjing-anjing neraka” (juga tiga kali diucapkan). Kemudian beliau berkata:
”Mereka sejelek-jelek bangkai di bawah naungan langit, dan sebaik-baik mayat adalah orang yang dibunuh olehnya.”
(tiga kali). Kemudian beliau menghadap kepadaku seraya berkata: ”Wahai Abu Ghalib sesungguhnya engkau berada di negeri yang banyak tersebar hawa nafsu dan banyak kekacauan”. Aku menjawab: ”Ya”. Beliau berkata: ”Semoga Allah subhanahu wata'ala melindungimu dari mereka”. Aku katakan: ”Tetapi mengapa engkau menangis?”. Beliau menjawab: ”kerana kasih sayangku kepada mereka, sesungguhnya mereka dulunya adalah golongan Islam”. Aku bertanya kepadanya: ”Apakah yang kau sampaikan itu sesuatu yang kau dengar dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam atau sesuatu yang kau sampaikan dari pendapatmu?!” Beliau menjawab: ”Kalau begitu berarti aku sangat lancang, jika aku menyampaikan apa yang tidak aku dengar dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam” sekali, dua kali dan seterusnya hingga beliau menyebutnya sampai tujuh kali. (Hadits hasan diriwayatkan oleh al-Ajurri dalam asy-Syari’ah hal. 156; lihat takhirjnya secara rinci dalam al-Wardul Waqthuf oleh syaikh Abu Abdirrahman Fauzi al-Atsari hal. 95).
Demikianlah betapa kerasnya peringatan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam terhadap kaum khawarij dan betapa jeleknya julukan-julukan yang beliau ucapkan kepada mereka. Yang demikian itu kerana akibat yang ditimbulkan oleh gerakan mereka sangat besar, yakni kekacauan dan pertumpahan darah di antara sesama kaum muslimin. Padahal nilai nyawa seorang mukmin lebih tinggi dari kesucian Arafah. Seperti Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam ucapkan pada hari Arafah:
Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian suci, seperti sucinya hari ini, di bulan ini, di negeri ini. (Bukhari-Muslim)
Yakni lebih suci dari hari yang suci yaitu hari Arafah di bulan suci yaitu Dzulhijjah dan negeri yang suci yaitu Makkah dan Arafah.
Berkata imam al-Ajurri tentang khawarij: “Tidak ada perselisihan di antara para ulama yang dulu maupun sekarang, bahawa khawarij adalah kaum yang jelek. Mereka bermaksiat kepada Allah subhanahu wata'ala dan Rasul-Nya shalallahu 'alaihi wasallam, walaupun mereka melakukan shalat, puasa dan bersungguh-sungguh dalam beribadah. Hal yang demikian tidak bermanfaat bagi mereka, kerana mereka adalah kaum yang menyelewengkan makna al-Qur’an sesuai dengan hawa nafsu mereka dan mengkaburkan pemahamannya terhadap kaum muslimin. (Lihat asy-Syari’ah al-Ajurri, hal. 32)
Apakah setelah ini pantas orang-orang yang mengaku Ahlus sunnah berdalil atas perbuatan yang mereka lakukan dengan apa yang dilakukan oleh khawarij untuk mencaci-maki dan menghujat para penguasa di hadapan umum?
Seperti apa yang dilakukan oleh khawarij gaya baru dan pengikutnya ketika mereka mencaci-maki pemerintah, kemudian dipenjara berkilah dengan ucapannya: “Kenapa kalian --wahai para penguasa-- ketika ada orang yang mengkritik, ditangkap, dipenjara dan diperangi? Bukankah Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, orang yang paling mulia, ketika dikritik oleh seseorang: “Berbuat adillah, sesungguhnya engkau tidak berbuat adil!” beliau shalallahu 'alaihi wasallam membiarkannya bebas merdeka?.*)
Lihatlah teladan yang dipakai mereka adalah perkataan Dzul Khuwaisirah kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam yang sudah kita ceritakan di muka. Padahal Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam marah dan menyebut dia sebagai bibit khawarij, dan beliau perintahkan kepada kita untuk memeranginya dan menjuluki mereka dengan julukan-julukan yang jelek. Wallahul musta’an.
Post a Comment